Sabtu, 31 Maret 2012

Quote (26)



"So, every time you hold me, hold me like this is the last time. Every time you kiss me, kiss me like you'll never see me again. Every time you touch me, touch me like this is the last time. Promise that you'll love me, love me like you'll never see me again."

Kutipan Lagu Alicia Keys - Like You'll Never See Me Again

Jatuh Pada Cinta Yang Baik


Sejak awal 2012 lalu, saya berjanji kepada diri sendiri. Jika tahun ini memulai hubungan baru, saya harus terjatuh pada cinta yang baik. Namun saya terhenti di suatu malam setelah pertemuan pertama dengan seorang pria yang saya kenal dari teman dekat saya. Pertanyaan mulai memenuhi kepala. Cinta yang baik? Bagaimana saya tahu jika kali ini adalah cinta yang baik?

“Mulailah dari awal yang baik,” tiba-tiba terdengar suara kecil membisik di telinga kiri saya. Masuk akal.

Belakangan ini, saya kerap menjalin hubungan dengan awal yang kurang baik dan berakhir dengan tidak baik pula. Awal yang baik berarti jatuhlah pada hati yang belum termiliki. Ya, seharusnya sih. Tapi lagi-lagi kalimat tersebut menimbulkan pertanyaan baru di kepala saya. Apa benar jika kita memulai hubungan dengan tidak baik maka akan berakhir tidak baik? Apa benar semua hubungan yang dimulai dengan baik, maka akan berjalan dengan baik tanpa akhir? Lalu bagaimana dengan pendapat yang selama ini saya setujui bahwa “Happy ending is just an undone story?”

Apakah saya bisa memilih kepada siapa cinta saya harus terjatuh?

Entah, apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Yang saya tahu, saya selalu jatuh cinta dalam keadaan sadar. Sadar dalam artian, saya tidak perlu bertanya kepada siapapun “am I falling in love?”, seperti yang kerap terjadi pada tokoh-tokoh dalam film cinta belakangan ini.

Saya tidak memilih kepada siapa atau pada jenis cinta macam apa saya terjatuh. Tapi saya selalu sadar “Saya akan jatuh cinta” di pertemuan pertama dengan orang yang akan membuat saya jatuh cinta. Cerita setelah jatuh cinta, itu beda lagi. Itu skenario baru yang sungguh tidak ada yang tahu akan berjalan atau mungkin berakhir seperti apa.

Cinta yang baik. Bagi saya semua cinta baik. Cinta tidak akan melukai. Ketika saya mampu secara sadar melukai seseorang, maka apa yang selama itu saya sebut cinta, bukanlah cinta. Entah itu sekedar suka, penasaran, kagum, ego, tapi yang pasti melukai tidak layak disebut ‘cinta’.

Cinta tidak akan melukai. Cinta tidak akan memaksa. Cinta adalah senyum. Cinta adalah kebahagiaan. Bahagia melihat orang yang kita akui ‘cintai’ bahagia. Klise sih, dan akan banyak yang menentang. Tapi banyaknya kegagalan yang saya jalani dalam cerita-cerita sebelumnya, mendewasakan pemaknaan cinta yang selama ini dengan mudah saya eja.

Akhirnya saya bertemu sosok yang membuat saya belajar mencintai dengan baik: membebaskan, melepaskan, serta memaafkan. Membebaskan ke mana hati sosok tersebut berlabuh, melepaskan genggaman tangan yang tidak terlalu erat, serta memaafkan cerita Tuhan yang kurang sesuai dengan harapan-harapan yang selama ini saya bangun di imajinasi saya sendiri.

Ternyata, rasa sakit tidak begitu menyesakkan di tiap langkah yang saya ambil untuk menjauh, hangat. Ya, akhirnya, untuk pertama kalinya, perpisahan yang biasanya membuat saya kalang kabut dan norak tidak lagi saya rasakan pada sosok ini. Bukan karena cinta saya padanya kurang kuat, namun cinta saya pada diri saya sendiri jauh lebih besar. Saya enggan mengizinkan hati saya terluka makin dalam dengan terus bertahan dan berjuang dengan seluruh rasa, hanya untuk hati yang separuh.

Saya dan teman-teman dengan sadar yakin bahwa kali ini saya jatuh cinta. Entah jatuh pada cinta jenis baik atau buruk. Yang saya tahu, kali ini saya berhasil mencintai dengan baik. Mencintai diri saya sekaligus dia, sosok yang akhirnya membuat saya merasakan hangat dan senyum tiap kali mengenang cerita singkat kita.

Saya mau jatuh pada cinta yang baik. Namun jauh di lubuk hati, saya mau mencintai dengan baik terlebih dulu, agar jika saatnya cinta baik itu tiba, saya tidak akan memalukan dia yang (maunya) akan mencintai saya dengan baik.

Perpisahan kali ini, bukan tutup buku. Saya yakin cinta saya padanya masih besar. Masih terlalu banyak rindu untuk Tuhan bertitik pada cerita kami. Saya hanya memberi sekedar memberi ruang, untuk dia merasakan kehilangan jika memang saya pernah penting di hatinya. Memberi ruang bagi hati saya untuk menyembuhkan luka yang belum cukup dalam. Memberikan ruang pada cerita kami yang sebelumnya terlalu cepat dan padat akan senyum serta tangis yang menghantam bertubi tanpa ada persiapan.

Jika memang cinta, maka jatuhlah, terus, lalu bertahanlah. Itu saja yang tadinya saya tahu. Nikmati apabila masih nikmat. Lepas saat yang tersisa hanya cemas. Kemudian seorang teman pernah berkata pada saya, pejuang yang baik, tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi.

Sedih? Menangis? Pastilah, tapi lagi-lagi saya teringat, saya terlalu mencintai diri saya sendiri hingga tidak akan lagi membiarkan siapapun melukai hati, pikiran dan tubuh saya termasuk oleh harapan serta mimpi saya sendiri.

Tentu, saya mau jatuh pada cinta yang baik. Dan inilah saya, sendiri (lagi). Karena saya akhirnya jatuh pada cinta yang baik, pada diri saya sendiri. Dengan mencintai hati saya sendiri, akhirnya saya bisa mencintai orang lain (dengan baik). Tanpa drama, tanpa sedih terlalu lama, tanpa perlu ada yang terluka.


PS: Tenang, Sayang.. saya belum mundur, saya hanya sekedar sedang diam, entah menyusun strategi, entah mengistirahatkan hati. Strategi bagaimana bisa terus mencintaimu tanpa harus melukai hatiku sendiri. Istirahat dari duka yang dihasilkan oleh harapan yang terlanjur terlalu tinggi. Karena saya tahu, jatuh cinta itu sulit, maka kali ini saya akan bertahan. Bertahan mencintai diri sendiri yang sedari dulu sulit saya lakukan. Dan kemudian mungkin akan membaginya ke kamu, dengan baik.



Dikutip dari Unplayed Words

Kamis, 29 Maret 2012

Quote (25)




"Aku sudah menyerah untuk mengejarmu, untuk membuatmu menjadi milikku lagi. Tapi aku masih ingin kamu tahu, bahwa kamu akan baik-baik saja kalau di sini. Kalau bersama aku ini. Itu saja dan sampai jumpa di ingatanku nanti malam atau kapan saja ketika aku sendirian dan bayanganmu datang."

Dikutip dari Namarappuccino

Rabu, 21 Maret 2012

Quote (24)



"Aku benci dengan semua kenyataan ini.
Kenyataan kamu mencintainya. Kenyataan kamu bersamanya.
Kenyataan kamu telah melupakanku."

Perempuan Ini



Perempuan ini sangat mengagumimu.



Kamu seperti hujan yang datang kala bumi sedang kepanasan atau seperti pelangi yang datang setelahnya. Ya. Kamu bisa menjadi siapa saja bagi perempuan ini. Membuatnya tenang, membuatnya nyaman, membuatnya tertawa, membuatnya berani berbagi cerita.


Tidak banyak yang tahu kalau perempuan ini menyimpan sesuatu. Dulu.


Ya. Mencintaimu. Tapi kamu tidak pernah tahu itu.


Dan ketika kedatangan perempuan cantik itu, perempuan yang ini limbung. Jatuh. Ada sesuatu asing yang sepertinya kemudian gemar sekali memukuli jantung. Tetapi kamu tidak pernah tahu itu. Perempuan yang ini terlalu mahir menyimpan sesuatu. Seperti menyembunyikan kenyataan bahwa dia mencintaimu. Ya. Seperti itu.


Dan sepertinya, sebenarnya kamu tidak terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang disembunyikan perempuan ini. Ya. Kamu terlalu pintar untuk tipuan kecil semacam itu. Perempuan ini sangat yakin kamu benar-benar tahu tentang rahasia itu. Bahwa perempuan ini mencintaimu? Iya. Kamu pasti tahu, bukan? Tidak mungkin tidak. Sesuatu yang bernama cinta sangat sulit disembunyikan. Begitu kan kamu bilang?


Masalahnya, meski kamu tahu tentang rahasia besar itu, kamu bahkan tidak mengejar perempuan ini. Ya. Kamu malah bersama perempuan itu, bukan perempuan ini. Aku tidak tahu apa pertimbanganmu. Tapi, tidak apa. Perempuan ini pasti akan tetap bahagia. Kamu pun juga. Entah dengan perempuan itu atau bukan. Aku dulu pernah berharap, kamu akan berbahagia dengan perempuan ini. Ya. Bersama perempuan yang selalu rindu menggenggam tanganmu atau bersandar di pundakmu ini.


Dan ketika datang lelaki itu, perempuan ini harus menerimanya. Tidak tahukah kamu bahwa perempuan ini sudah lelah menunggu? Apalagi sejak kedatangan perempuan itu di sisimu. Mengambil semua waktu perempuan ini denganmu. Sejak itu, dia mulai mengalihkan pikiran kepada lelaki itu. Lelaki itu perhatian, baik dan pengertian. Ya. Aku akan menerima lelaki itu.


Perempuan ini akan berhenti mencintaimu dan mulai mencintai lelaki itu.


Oya, tapi perempuan ini tidak akan melupakanmu. Tentu saja perempuan ini tidak akan mengingatmu setiap hari seperti seorang gila. Perempuan ini akan tetap melupakanmu, tapi sesekali pasti akan mengingatmu. Bisa jadi pada saat melihat-lihat album foto pada zaman dulu lalu ada fotomu di sana. Ya, mungkin perempuan ini akan mengingatmu dengan cara itu.


Satu lagi. Ketika momen-momen seperti itu terjadi, perempuan ini juga akan mengingatmu sebagai lelaki yang pernah dicintai oleh perempuan ini.

*******

Gatau kenapa, suka banget sama penggalan fiksi Mas Namara ini. Mungkin karena aku pernah ngalamin hal yang hampir sama :)