Minggu, 04 November 2012

Quote (30)



"Kalau kamu bertanya cinta itu seperti apa, sebenarnya kamu hanya cukup memperhatikan cara aku memperhatikanmu saja."

Dikutip dari Namarappuccino

Rabu, 17 Oktober 2012

Hanarete Itemo - 2PM (Jun K.)



Akhir-akhir ini Junsu sukses bikin galau. Kemaren aku dibuat galau karena lagu "Love... Goodbye"-nya, sekarang ada satu lagi lagu ciptaannya yang bikin aku galau. Ya, "Hanarete Itemo"! Gilak, ini lagu apa-apaan banget! Nusuk sampai ke relung hati terdalam. AAAAAAA, Junsu harabeuji T_______T

Ini lirik jepang, inggris dan indonesianya ^^

Hanarete Itemo
Even if we are apart 
(Bahkan Ketika Kita Berpisah)


Lyrics byJun.K, Kenn Kato
Composed by
Jun.K
Arranged by
Sim Eun Jee 


Futo kimi wo omouyo ano sunde hikaru hitomi wo
When I suddenly think of you and those clear and bright eyes
Ketika aku tiba-tiba memikirkanmu dan itu sangat jelas di mataku

Sora ni ukanda mikazuki ni kasaneteru

They suddenly appear up in the sky floating above the crescent moon
Itu semua tiba-tiba pula muncul di atas bulan sabit

Dekiru no nara nemuri ni ochiru

If it‘s possible as I fall asleep
Apakah itu mungkin karena aku tertidur

Sono heya no mado kara yume ni magirete sotto koishisa wo todoketai

And drift into a dream I wish I could send my longing through that room’s window
Dan hanyut dalam mimpi, aku berharap aku bisa mengirim rasa rinduku melalui jendela itu

Sou konnanimo kimi wo omoi tsuzuketeru noni
So just like that as I keep on thinking of you

Seperti itulah saat aku terus memikirkanmu

Komiageru hodo no kimochi ni tabun mada kimi wa kizuitenai

You‘re probably still not aware of this feeling that is welling up
Kau mungkin tak menyadari bahwa perasaan ini masih ada



Hanaretemo kimino kage wa boku ga itoshisade kaite iru to wasurenaide
Even if I‘m away, don‘t forget that I paint your shadow in strokes of dear longing
Bahkan jika aku pergi, ingatlah bahwa aku melukis bayanganmu di dalam kerinduanku

Boku wa itsudemo sobani iruyo

I‘m always by your side
Aku selalu disisimu

Ai-i-ta-i, to iu se-tsu-na-i, kotoba wo ima soyokaze ga hakonde kureta ki ga suruyo

Miss you… sorrow… such words come to mind as I’m drowning in the mood carried over by a light breeze
Rindu... sedih ... kata-kata itu datang ke dalam pikiranku saat aku tenggelam dalam suasana hatiku yang terbawa oleh angin

Mou natsukashii kimi no ano kaori no kioku wo sukoshi zutsu sukoshi zutsu ima kono mune ni fufaku suikondeku

Feeling nostalgic again and now little by little I inhale deeply into this chest the memory of your scent
Aku mengenangnya lagi, dan sedikit demi sedikit aku menarik nafas dalam-dalam dan mengenang dirimu

Ki ga tsukeba sekaichuu ga kimi de umetsuku sarete irundayo afureru kono omoi wo tomerarenainda
And when you realize it, the whole world is filled with you and I cannot stop this overflowing feeling
Dan ketika kau menyadarinya, seluruh dunia dipenuhi oleh bayangmu, dan aku tak bisa menghentikan perasaan yang menyesakkan ini

Mou kurayami wo kowagaranaide

Don’t be afraid of the dark anymore
Jangan takut akan gelap lagi

Hitomi wo tojitanara

Because as long as you close your eyes
Karena selama kau menutup matamu

Kagayaku tsuki no you ni kanarazu boku ga mitsumete iru kara

There will definitely be me watching over you like a bright moon
Aku pasti akan menjagamu seperti cahaya bulan itu

Sou hanaretemo

So even if we are apart
Begitu pun ketika kita berpisah

Sono kokoro no sora de terashi tsuzuketeru kara

Because you keep on illuminating the sky of my heart
"Karena kau terus menerangi langit hatiku"

Wasurenaide

Don’t forgetJangan pernah lupa

Boku wa itsudemo sobani iru yo

I am always by your side
Aku akan selalu di sisimu





Selasa, 09 Oktober 2012

Love... Goodbye - Kim Junsu

Barusan search soundtrack drama korea dan mendapati satu lagu yang sangat menarik perhatian. OST drama I Love Italy. Jujur, aku sama sekali ga tau tentang drama itu, tapi penyanyinya sangat familiar buatku. Ya, daegu harabeuji a.k.a Kim Junsu! ^^~

Setelah download, dengerin dan caritau arti lirik lagunya, aku langsung mendadak galau. Ini lagu nyindir banget sih! Bikin mellow tingkat tak terbendung.

Ini liriknya dalam bahasa inggris..


I didn’t say it, I couldn’t say it
I couldn’t tell you that I love you
When time passes, you will know someday
As I am by your side
If I tell you that it’s been me all along
How hurt would you be?
Goodbye my love, my dear goodbye
I need to erase all the memories I couldn’t tell you
I loved you, I thank you
Instead of those painful words
I just smile and say goodbye
When time passes, you will know someday
As I am by your side
If I tell you that it’s been me all along
How hurt would you be?
Goodbye my love, my dear goodbye
I need to erase all the memories I couldn’t tell you
I loved you, I thank you
Instead of those painful words
I just smile and say goodbye
We might meet again someday but
I loved you and I thank you
I just hope for your happiness, goodbye


Read more: http://www.kpoplyrics.net/2pm-junsu-love-goodbye-lyrics-english-romanized.html#ixzz28nAOBva6 
Follow us: @kpoplyrics_net on Twitter | kpoplyricsnet on Facebook

Sabtu, 29 September 2012

Talk Show Indra Widjaya & Bernard Batu Bara


Kemaren, 28 September 2012, di Ambarekmo Plaza Yogyakarta bang Indra sama bang Bara talk show!! Aaaaaaa seneng banget akhirnya bisa liat si sarang burung bang Indra secara langsung! Gilakkk, ternyata bang Indra lebih unyu daripada yang biasa aku liat di layar laptop ataupun di tv! Mana suaranya itu lohhhh bikin geregetan.



Wujud keunyuan si sarang burung bang Indra


Woy, hadap ke gue napa?! -_-


Ceritanya lagi galau~


"Dera, apa kabar kamu di sana?"


Bang Bara yang bikin euhhhhhh


Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Ada kejadian lucu pas talk show kemaren, waktu bang Indra pegang mic tiba-tiba mic-nya mati dan ada satu cewek yang nyeletuk "megang mic aja gagal"
Wakakakak, langsung ngakak semua orang. Kesian bang Indra. Pasti dia mau bilang "HUFT" :D


Dapat tanda tangan bang Indra di baju dong >o<


Makasih yaa abang-abang buat keramahannya kemaren. Ditunggu kedatangannya ke Jogja lagi >o<

Kamis, 27 September 2012

-

Aku kesepian. Semua orang seperti gak benar-benar peduli sama aku. Bahkan mereka seperti menganggapku gak ada. Rasanya seperti hidup sebatang kara, tanpa teman, tanpa kerabat. Ya Alloh, kenapa jalanku harus sesulit ini. Rasanya sudah hampir gak mampu lagi. Tapi untuk berhenti, aku lebih gak mampu liat wajah kecewa orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus bertahan dalam keadaan yang gak bersahabat ini? Ya Alloh, kuatkan aku.

Selasa, 17 April 2012

Quote (29)



"Bagaimana cara menuliskan aku rindu tanpa benar-benar kelihatan kalau aku mengharapkan kamu mengalami yang sama denganku?"

Kutipan tweet @ericknamara

Jumat, 13 April 2012

Quote (28)




"Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau. Namun, ketika dia hadir dalam hidupmu, akupun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan kepadamu."

Kutipan film "The Little Mermaid"

Kamis, 12 April 2012

Quote (27)



"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, kamu melakukannya karena kamu mencintai dirimu sendiri."

Minggu, 08 April 2012

Seperti Waktu Itu


Minggu, 8 April 2012


"Sayang, malam ini bulan purnamanya sangat terang, seperti waktu itu.
Sayang, aku ingin menikmati sinarnya bersamamu, lagi, seperti waktu itu."

Minggu, 01 April 2012

Tuhan, Bolehkah Malam Ini Aku Pergi Membunuh?


Tuhan.

Aku tau, mungkin ini keterlaluan, tapi sungguh.. aku sudah tidak tahan lagi. Aku pun sudah tidak punya pilihan lain, Tuhan. Malam ini, pinjami aku jiwa yang keji. Malam ini, izinkan aku menjadi seorang pembunuh yang keji. Hanya malam ini saja Tuhan.

Tuhan, dua jam tersisa, pilihannya hanya antara; aku pergi membunuh atau kali ini aku yang mati. Tuhan, bantu aku untuk bisa menjadi pembunuh tanpa belas kasihan.

Ya.. Malam ini aku mau pergi membunuh. Membunuh semua rasa penyesalanku. Membunuh semua rasa yang tersisa untuknya. Membunuh malam-malam keji yang kulalui dengan menantinya. Mau ku bunuh satu persatu. Mau ku bunuh hingga tak ada lagi yang bernafas, Tuhan.

Aku sadar, sangat sadar. Malam ini memang aku masih sendu. Masih marah pada diriku sendiri. Masih enggan menatap pantulan diri di kaca. Masih benci melihat ke belakang yang penuh senyumnya. Masih hidup dengan berharap pada yang tersisa.

Tuhan, boleh aku pinjam pisau?

Malam ini aku mau bawa pisau. Pisau tajam yang akan mengiris semua pengkhianatannya. Pisau tajam yang akan kupakai untuk memotong segala nadi yang masih saja berdetak akan memorinya. Pisau tajam yang akan menyayat tiap lembar cerita aku dan dia. Pisau tajam yang akan melukai satu hati suci yang terlalu menggilainya. Bantu aku Tuhan.

Malam ini. Ya, malam ini. Tuhan. Bolehkan?

Demi semua darah yang mengalir atas kekaguman ku padanya. Demi jutaan rindu yang terbuang karna angkuhnya. Demi sapaan sampah yang terus terngiang dikepalaku. Demi jahitan-jahitan yang tak pernah rapat menutup luka ku. Demi dia! Demi aku! Demi tak pernahnya ada kita!

Tuhan ku. Malam ini. Tolong aku!

Aku siap. Siap tidak siap, akan ku siapkan semua keberanian untuk memotong jalan sendu ini. Siap untuk berlumuran darah kenangan tak tersentuh antara aku dan dia. Siap menepis dan menolak untuk terseok di lingkaran kenangan yang terlalu menyayat ini. Siap untuk membunuh semua tentang dia yang tersisa disini, Tuhan.

Buat aku siap Tuhan, siap mengorek semua borok hati yang tercipta dari takdir-Mu yang mempertemukan aku dan dia. Buat aku siap mencuci otak agar bersih dari tatap dan senyumnya. Buat aku siap Tuhan.

Tidak, aku harus yakin pada diri sendiri, aku harus bergerak sendiri, aku harus menyiapkan diriku sendiri, dengan atau tanpa bantuanMu. Mau atau tidak mau. Aku memang harus siap menjadi seorang pembunuh.

Ya. Malam ini.
Mau ku bedah isi kepala, hati dan kenangan ku akan dia. Mau ku buang hingga dia tau apa rasanya menjadi sampah. Mau ku lantangkan segala tangis yang selama ini kusembunyikan. Mau teriak sekeras kerasnya, wahai Tuhan!

Mau bilang. Dia sungguh brengsek! Dan Kau harus dengar Tuhan! HARUS!

Mau ku tampar semua kebodohanku. Mau kubunuh urat malu ku untuk membuang semua cerita aku dan dia. Mau kubakar hingga yang tersisa hanya abu. Hanya abu. Ya, abu. Abu yang akan kusebarkan dimakamnya. Di makam kenangan tak tersentuh aku dan dia.

Tuhan, malam ini Kau boleh memanggil ku si Gila. Benar, aku gila karena menjadi sampahnya. Aku gila tak terima tak bisa lagi menyentuhnya. Aku gila ditinggal dia.

Mungkin Kau sekarang sedang menertawakan kegilaanku, Tuhan. Ya, aku orang gila yang mau jadi pembunuh. Aku si gila yang terlalu menggilai cinta. Dan malam ini aku makin gila saat ku tau semuanya sudah tak tersentuh.

Gila. Biarkan aku jadi gila, Tuhan. Hanya malam ini, aku janji. Atau… Kau mau biarkan nadi kegilaanku ini terus berdenyut kenangan aku dan dia? Tidak, aku tidak sudi. Tidak Tuhan, jangan biarkan itu terjadi.

Biarkan. Biarkan aku menggila dengan kegilaanku. Malam ini, terakhir.

Ku bunuh kau! Kenangan tak tersentuhku! Matilah kau! Pergi ke alam astral yang tak akan pernah kujumpai sebelum jasadku terkubur bumi. Mati. Pergilah kau mati kenanganku. Atau biarkan aku yang mati. Mati rasa pada kenangan tak tersentuh aku dan dia.

Tuhan..
Malam ini, bolehkan aku menjadi pembunuh?

Salam,

Si Gila


Dikutip dari Unplayed Words

Jika Aku (Maka Kamu)

Jika aku, adalah Kata, maka kamu adalah Koma yang membiarkan aku tetap bercerita sebelum dibunuh titik.

Jika aku adalah Senja, maka kamu adalah Orange yang membuatku tetap tersenyum saat nyawaku dicabut malam.

Jika aku adalah Gelap, maka kamu adalah Bintang yang memeluk dengan hangat meski bulan memandang sinis.

Jika aku, adalah Nada, maka kamu adalah Lirik yang mengubahku menjadi sebuah lagu dihati para pecinta.

Jika aku adalah Dingin, maka kamu adalah secangkir kopi yang menghadirkan kehangatan disekujur kerinduanku.

Jika aku adalah Sepi, maka kamu adalah Jemari sempurna yang menggenggam hari ku dengan penuh cita.

Jika aku adalah Mimpi, maka kamu adalah Pemilik alam astral terbaik yang mengizinkan aku singgah dikala ku menutup mata pada dunia.

Jika aku adalah Cermin, maka kamu adalah pantulan Senyum yang tercipta ditiap ku mengeja namamu.

Jika aku adalah Doa, maka kamu adalah Ayat tersuci yang selalu tereja ditiap aku memohon pada Pencipta.

Jika aku adalah Detik, maka kamu adalah Perjalanan terindahku hingga aku bisa sempurna disapa waktu.

Jika aku adalah Langkah, maka kamu adalah Ujung perjalanan ku untuk singgah bersandar dibahu rumah (hati mu).

Jika aku adalah Luka, maka kamu adalah Anugrah Tuhan yang dibekali senyum tersempurna untuk mengobati ku.

Jika aku adalah Penantian, maka kamu adalah Alasan terkuat ku untuk setia pada rindu.

Jika aku adalah Hujan, maka kamu adalah Pelangi yang menjanjikan ku warna setelah mendung menguasai langit.

Jika aku adalah Hari ini, maka kamu adalah Esok yang hadirnya selalu ku tunggu bersama mentari.

Jika aku adalah Harapan, maka kamu adalah Jawaban Tuhan yang melengkapi hidupku dengan makna.

Jika aku adalah Takdir, maka kamu adalah Karma ternikmat yang tidak pernah jera ku cicipi.

Jika aku adalah Cinta, maka kamu adalah Alasan tersempurna mengapa aku bangga saat terjatuh.

Jika aku adalah Kamu, maka aku adalah Sentuhan Tuhan yang paling indah yang pernah hadir di takdir mu.

Kamu, ya.. kamu.. satu-satunya nama Lelaki yang baru saja kusadari untuk pertama kalinya kusandingkan disamping nama Ayah ku diantara selipan doa saat aku meminta pada yang Kuasa. Kamu. Cinta.


Dikutip dari Unplayed Words

Menunggumu (mati)

Lihat ini sayang, genangan air mata yang kamu lahirkan, telah terkumpul menjadi sebuah sungai duka yang sengaja kupelihara.

Lihat ini sayang, detak jantungku yang mulai melemah, karena lebam yang kamu hantam dengan pengkhianatan.

Coba lihat yang sebelah sini, Cinta.. hatiku yang tinggal separuh karena sisanya masih kamu genggam.

Lalu coba tengok apa yang ada didalam genggaman tanganku, ini patahan-patahan rindu yang dulu sengaja kamu berikan, yang dulu sengaja kamu suruh aku kumpulkan, yang dulu sengaja kamu pinta aku bungkus dengan sebuah pita bernama sabar, lihat! Masih utuh dalam genggaman tanganku yang makin biru menahan pilu.

Tapi lihat mataku, tatap tajam-tajam, apa masih bisa kamu pandang bola mataku yang dulu hanya tertuju padamu? Masih bisakah kamu katakan segala ucap yang menentramkan tiap tetes ragu akan barisan kata pujaanmu? Masihkah? Tidak, sayang. Tidak.Yang tersisa hanya kerak dari duka bernama air mata.

Aku jengah dengan semua tanya mereka, aku bosan dengan tuduhan-tuduhan mereka. Peran yang kamu mainkan di atas sebuah panggung bernama sandiwara, sebuah cerita yang kamu ciptakan, sebuah tokoh yang kamu pakaikan pada jiwa hampa yang bergantung pada nafas pujianmu. Atas nama kebohongan, kamu menelanjangiku yang buta akan peran, kamu pakaikan aku jubah yang terlahir dari kepandaian jemarimu merangkai kata. Memujamu tanpa cela.

Sayang, aku masih di sini, di atas panggung tempatmu membuatku melayang, di pentas dengan skenario rindu yang setia menanti, masih. Tapi, kali ini kurobek jatah peran yang pernah kamu ciptakan, aku telanjang lagi, yang tersisa hanya pandangan mereka yang mengiraku gila.

Sayang, ini masih aku, sedikit aku yang dulu sangat mempercaimu, yang terlanjur diberi peran baru oleh mereka yang tidak mempercayaiku, ah..mereka bilang aku gila. Tidak sayang, aku sama sekali tidak gila, aku hanya sedikit menggilaimu dengan segala kegilaan yang tersisa. Kamu yang membuatku menjadi sosok gila.

Sayang, ini ambil semua rindu yang masih ada digenggaman tanganku, ambil semuanya dan kembalikan hatiku yang saat ini sudah tidak ada lagi di hatimu. Kembalikan hatiku. Kembalikan utuh-utuh! Atau boleh aku tanya, kapan kamu mati? Bisa secepatnya kamu mati, sayang?

Kali ini, aku peringatkan kamu dengan halus, wahai penipu handal, penenun rindu yang pandai menciptakan duka. Dengar baik-baik.. kembalikan hatiku utuh-utuh sekarang atau ku paksa Tuhan mencabut nyawa kebahagiaanmu sekarang. Dengan tanganku.

Sayangku, lebih baik kamu mati sekarang, jangan terus paksa aku mengotori tanganku dengan darah-darah yang terlahir dari pembalasan atas pilu yang makin membuat warasku membatu. Mati saja kamu, biar nanti, aku ambil sisa hatiku di pemakamanmu.

Ah..tidak mau? Mau mengujiku? Mau tau seberapa kejamnya pembalasan dari pemilik hati yang dulu (dan masih) mencintaimu? Mau tau bagaimana kegilaanku membuatmu ikut gila? Mau tau rasanya sakit? Mau coba cicipi sedikit emosiku? Atau ini memang skenario baru yang sengaja kamu ciptakan agar dunia memenjarakanku dalam teralis duka? Ah..atau mungkin ini adalah rencana pandaimu yang lain, agar mereka terus memanggilku si gila? Jahanam! Kamu benar-benar telah membuatku geram!

Atau sebaiknya aku duduk di sini dengan tenang, memasang topeng senyum yang seperti dulu kamu pinjamkan? Menikmati sebutan gila dariNya? Duduk manis di panggung tempatmu bermain sandiwara? Diam dan mendoakanmu agar cepat mati? Menunggu dengan setia, seperti dulu yang pernah ku ucap. Menunggumu. Mati. Segera. Sayang.


Dikutip dari Unplayed Words

Sabtu, 31 Maret 2012

Quote (26)



"So, every time you hold me, hold me like this is the last time. Every time you kiss me, kiss me like you'll never see me again. Every time you touch me, touch me like this is the last time. Promise that you'll love me, love me like you'll never see me again."

Kutipan Lagu Alicia Keys - Like You'll Never See Me Again

Jatuh Pada Cinta Yang Baik


Sejak awal 2012 lalu, saya berjanji kepada diri sendiri. Jika tahun ini memulai hubungan baru, saya harus terjatuh pada cinta yang baik. Namun saya terhenti di suatu malam setelah pertemuan pertama dengan seorang pria yang saya kenal dari teman dekat saya. Pertanyaan mulai memenuhi kepala. Cinta yang baik? Bagaimana saya tahu jika kali ini adalah cinta yang baik?

“Mulailah dari awal yang baik,” tiba-tiba terdengar suara kecil membisik di telinga kiri saya. Masuk akal.

Belakangan ini, saya kerap menjalin hubungan dengan awal yang kurang baik dan berakhir dengan tidak baik pula. Awal yang baik berarti jatuhlah pada hati yang belum termiliki. Ya, seharusnya sih. Tapi lagi-lagi kalimat tersebut menimbulkan pertanyaan baru di kepala saya. Apa benar jika kita memulai hubungan dengan tidak baik maka akan berakhir tidak baik? Apa benar semua hubungan yang dimulai dengan baik, maka akan berjalan dengan baik tanpa akhir? Lalu bagaimana dengan pendapat yang selama ini saya setujui bahwa “Happy ending is just an undone story?”

Apakah saya bisa memilih kepada siapa cinta saya harus terjatuh?

Entah, apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Yang saya tahu, saya selalu jatuh cinta dalam keadaan sadar. Sadar dalam artian, saya tidak perlu bertanya kepada siapapun “am I falling in love?”, seperti yang kerap terjadi pada tokoh-tokoh dalam film cinta belakangan ini.

Saya tidak memilih kepada siapa atau pada jenis cinta macam apa saya terjatuh. Tapi saya selalu sadar “Saya akan jatuh cinta” di pertemuan pertama dengan orang yang akan membuat saya jatuh cinta. Cerita setelah jatuh cinta, itu beda lagi. Itu skenario baru yang sungguh tidak ada yang tahu akan berjalan atau mungkin berakhir seperti apa.

Cinta yang baik. Bagi saya semua cinta baik. Cinta tidak akan melukai. Ketika saya mampu secara sadar melukai seseorang, maka apa yang selama itu saya sebut cinta, bukanlah cinta. Entah itu sekedar suka, penasaran, kagum, ego, tapi yang pasti melukai tidak layak disebut ‘cinta’.

Cinta tidak akan melukai. Cinta tidak akan memaksa. Cinta adalah senyum. Cinta adalah kebahagiaan. Bahagia melihat orang yang kita akui ‘cintai’ bahagia. Klise sih, dan akan banyak yang menentang. Tapi banyaknya kegagalan yang saya jalani dalam cerita-cerita sebelumnya, mendewasakan pemaknaan cinta yang selama ini dengan mudah saya eja.

Akhirnya saya bertemu sosok yang membuat saya belajar mencintai dengan baik: membebaskan, melepaskan, serta memaafkan. Membebaskan ke mana hati sosok tersebut berlabuh, melepaskan genggaman tangan yang tidak terlalu erat, serta memaafkan cerita Tuhan yang kurang sesuai dengan harapan-harapan yang selama ini saya bangun di imajinasi saya sendiri.

Ternyata, rasa sakit tidak begitu menyesakkan di tiap langkah yang saya ambil untuk menjauh, hangat. Ya, akhirnya, untuk pertama kalinya, perpisahan yang biasanya membuat saya kalang kabut dan norak tidak lagi saya rasakan pada sosok ini. Bukan karena cinta saya padanya kurang kuat, namun cinta saya pada diri saya sendiri jauh lebih besar. Saya enggan mengizinkan hati saya terluka makin dalam dengan terus bertahan dan berjuang dengan seluruh rasa, hanya untuk hati yang separuh.

Saya dan teman-teman dengan sadar yakin bahwa kali ini saya jatuh cinta. Entah jatuh pada cinta jenis baik atau buruk. Yang saya tahu, kali ini saya berhasil mencintai dengan baik. Mencintai diri saya sekaligus dia, sosok yang akhirnya membuat saya merasakan hangat dan senyum tiap kali mengenang cerita singkat kita.

Saya mau jatuh pada cinta yang baik. Namun jauh di lubuk hati, saya mau mencintai dengan baik terlebih dulu, agar jika saatnya cinta baik itu tiba, saya tidak akan memalukan dia yang (maunya) akan mencintai saya dengan baik.

Perpisahan kali ini, bukan tutup buku. Saya yakin cinta saya padanya masih besar. Masih terlalu banyak rindu untuk Tuhan bertitik pada cerita kami. Saya hanya memberi sekedar memberi ruang, untuk dia merasakan kehilangan jika memang saya pernah penting di hatinya. Memberi ruang bagi hati saya untuk menyembuhkan luka yang belum cukup dalam. Memberikan ruang pada cerita kami yang sebelumnya terlalu cepat dan padat akan senyum serta tangis yang menghantam bertubi tanpa ada persiapan.

Jika memang cinta, maka jatuhlah, terus, lalu bertahanlah. Itu saja yang tadinya saya tahu. Nikmati apabila masih nikmat. Lepas saat yang tersisa hanya cemas. Kemudian seorang teman pernah berkata pada saya, pejuang yang baik, tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus diam menyusun strategi.

Sedih? Menangis? Pastilah, tapi lagi-lagi saya teringat, saya terlalu mencintai diri saya sendiri hingga tidak akan lagi membiarkan siapapun melukai hati, pikiran dan tubuh saya termasuk oleh harapan serta mimpi saya sendiri.

Tentu, saya mau jatuh pada cinta yang baik. Dan inilah saya, sendiri (lagi). Karena saya akhirnya jatuh pada cinta yang baik, pada diri saya sendiri. Dengan mencintai hati saya sendiri, akhirnya saya bisa mencintai orang lain (dengan baik). Tanpa drama, tanpa sedih terlalu lama, tanpa perlu ada yang terluka.


PS: Tenang, Sayang.. saya belum mundur, saya hanya sekedar sedang diam, entah menyusun strategi, entah mengistirahatkan hati. Strategi bagaimana bisa terus mencintaimu tanpa harus melukai hatiku sendiri. Istirahat dari duka yang dihasilkan oleh harapan yang terlanjur terlalu tinggi. Karena saya tahu, jatuh cinta itu sulit, maka kali ini saya akan bertahan. Bertahan mencintai diri sendiri yang sedari dulu sulit saya lakukan. Dan kemudian mungkin akan membaginya ke kamu, dengan baik.



Dikutip dari Unplayed Words

Kamis, 29 Maret 2012

Quote (25)




"Aku sudah menyerah untuk mengejarmu, untuk membuatmu menjadi milikku lagi. Tapi aku masih ingin kamu tahu, bahwa kamu akan baik-baik saja kalau di sini. Kalau bersama aku ini. Itu saja dan sampai jumpa di ingatanku nanti malam atau kapan saja ketika aku sendirian dan bayanganmu datang."

Dikutip dari Namarappuccino

Rabu, 21 Maret 2012

Quote (24)



"Aku benci dengan semua kenyataan ini.
Kenyataan kamu mencintainya. Kenyataan kamu bersamanya.
Kenyataan kamu telah melupakanku."

Perempuan Ini



Perempuan ini sangat mengagumimu.



Kamu seperti hujan yang datang kala bumi sedang kepanasan atau seperti pelangi yang datang setelahnya. Ya. Kamu bisa menjadi siapa saja bagi perempuan ini. Membuatnya tenang, membuatnya nyaman, membuatnya tertawa, membuatnya berani berbagi cerita.


Tidak banyak yang tahu kalau perempuan ini menyimpan sesuatu. Dulu.


Ya. Mencintaimu. Tapi kamu tidak pernah tahu itu.


Dan ketika kedatangan perempuan cantik itu, perempuan yang ini limbung. Jatuh. Ada sesuatu asing yang sepertinya kemudian gemar sekali memukuli jantung. Tetapi kamu tidak pernah tahu itu. Perempuan yang ini terlalu mahir menyimpan sesuatu. Seperti menyembunyikan kenyataan bahwa dia mencintaimu. Ya. Seperti itu.


Dan sepertinya, sebenarnya kamu tidak terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang disembunyikan perempuan ini. Ya. Kamu terlalu pintar untuk tipuan kecil semacam itu. Perempuan ini sangat yakin kamu benar-benar tahu tentang rahasia itu. Bahwa perempuan ini mencintaimu? Iya. Kamu pasti tahu, bukan? Tidak mungkin tidak. Sesuatu yang bernama cinta sangat sulit disembunyikan. Begitu kan kamu bilang?


Masalahnya, meski kamu tahu tentang rahasia besar itu, kamu bahkan tidak mengejar perempuan ini. Ya. Kamu malah bersama perempuan itu, bukan perempuan ini. Aku tidak tahu apa pertimbanganmu. Tapi, tidak apa. Perempuan ini pasti akan tetap bahagia. Kamu pun juga. Entah dengan perempuan itu atau bukan. Aku dulu pernah berharap, kamu akan berbahagia dengan perempuan ini. Ya. Bersama perempuan yang selalu rindu menggenggam tanganmu atau bersandar di pundakmu ini.


Dan ketika datang lelaki itu, perempuan ini harus menerimanya. Tidak tahukah kamu bahwa perempuan ini sudah lelah menunggu? Apalagi sejak kedatangan perempuan itu di sisimu. Mengambil semua waktu perempuan ini denganmu. Sejak itu, dia mulai mengalihkan pikiran kepada lelaki itu. Lelaki itu perhatian, baik dan pengertian. Ya. Aku akan menerima lelaki itu.


Perempuan ini akan berhenti mencintaimu dan mulai mencintai lelaki itu.


Oya, tapi perempuan ini tidak akan melupakanmu. Tentu saja perempuan ini tidak akan mengingatmu setiap hari seperti seorang gila. Perempuan ini akan tetap melupakanmu, tapi sesekali pasti akan mengingatmu. Bisa jadi pada saat melihat-lihat album foto pada zaman dulu lalu ada fotomu di sana. Ya, mungkin perempuan ini akan mengingatmu dengan cara itu.


Satu lagi. Ketika momen-momen seperti itu terjadi, perempuan ini juga akan mengingatmu sebagai lelaki yang pernah dicintai oleh perempuan ini.

*******

Gatau kenapa, suka banget sama penggalan fiksi Mas Namara ini. Mungkin karena aku pernah ngalamin hal yang hampir sama :)


Menuliskanmu Semampuku

Kata orang, jika kamu tidak bisa mengatakan perasaanmu, tuliskan dulu. Ini, ini aku sedang menuliskannya. Menuliskan perasaanku.

Tapi tentu saja aku tidak begitu pandai menulis, jadi aku akan menuliskannya semampuku.

Kita itu sebenarnya lucu. Saling menemani, tapi tidak pernah ada ucapan saling mencintai. Meski kamu dan aku sama-sama tahu, bahwa setidaknya, aku mencintai. Mencintaimu. Dan kamu tahu benar tentang mencintainya aku itu. Karena tidak ada yang bisa ditutupi, apalagi dengan sebegitu seringnya aku memujimu, dan sebegitu memperhatikannya aku detail tentangmu.

Kita itu lucu. Selalu saling mengerti. Jika aku bercerita, kamu akan diam mendengar. Jika kamu yang bercerita, gantian aku yang berdebar. Lalu kemudian aku membagi porsi hatiku; ini untuk rinduku pada ceritamu, ini untuk mencintaimu. Lihat, tempat porsinya selalu untuk kamu.

Kita itu lucu. Seringkali saling memperhatikan, tapi sama-sama berusaha agar tidak ketahuan. Aku tidak tahu alasanmu, tapi kalau aku, lebih kepada agar rinduku tidak terlalu kelihatan. Bagaimanapun juga, (mungkin) ada seseorang di sana yang menemanimu. Yang selalu membuyarkan awan fantasi kecil yang muncul di kepalaku ketika mengenangmu. Meratakan apa pun bayangin indah tentang kata ‘kita’, menjadi hanya ‘aku’ dan atau ‘kamu’.

Kamu pernah merasa cemburu? Kalau belum, percaya padaku, rasanya tidak enak sama sekali. Apalagi cemburu kepada seseorang yang bahkan tidak kamu miliki. Seperti aku, yang mencemburuimu.

Dan kamu pernah merasa sangat rindu? Aku rindu. Tapi aku tidak tahu apakah kamu merasakan persis sama sepertiku. Persis, ya, persis. Bukan hanya sekadar teringat denganku. Itu bukan rindu. Itu hanya mengingatku.

Dan kamu tahu seberapa melelahkannya itu? Apalagi ketika aku tahu kamu sedang sakit, tapi tidak bisa menanyakan kabarmu hanya karena takut di sana (mungkin) ada dia yang menjagamu? Itu melelahkan sekali. Percaya padaku.

Apa lagi yang harus kutuliskan? Sebentar. Aku tidak terbiasa menulis, jadi aku tulis apa yang ada di pikiranku. Untuk itu, aku harus berpikir dulu.

Mmm oya, kamu apa kabar? Kalau boleh jujur, aku ingin sekali melihatmu tertawa atau mendengar suaramu bernyanyi. Apalagi pada saat matahari dipukul senja, sampai dia jatuh dan melarikan diri ke belahan lain bumi. Apalagi ketika hujan datang, yang tidak hanya membawa miliaran tetes air tapi juga ribuan kamu yang berjatuhan di kepalaku. Apalagi ketika aku mendengar lagu favoritmu dan tiba-tiba saja secara otomatis, aku memutar rekaman apa pun tentangmu di ingatanku.

Aduh, ketika mencoba memperindah kalimatku malah kelihatan memusingkan ya? Maaf. Aku menulis lagi apa adanya saja.

Tentang ingin sekali melihatmu tertawa atau mendengar suaramu bernyanyi itu, benar adanya. Aku tidak menambahkan dan tidak mengurangi. Kalau ada waktu nanti --tentu saja waktu yang dipunyai aku dan kamu, dan tentu saja kalau Tuhan menghendaki, boleh aku meminta kesempatan itu? Sekali saja. Untuk kukenang. Untuk kuceritakan bahwa aku pun pernah menemani gadis impian.

Dan ketika itu, aku ingin mengatakan sesuatu persis di depan matamu. Kalaupun tidak bisa, setidaknya menggunakan suaraku saja. Kalau tidak bisa juga, setidaknya melalui tulisan. Bukan yang ini, tapi benar-benar yang kutulis untukmu dan yang bisa membacanya juga hanya kamu.

Kalimat yang akan kusampaikan itu sederhana, bahwa aku mencintaimu, bahwa aku selalu rindu denganmu.
Itu saja dulu. Maaf kalau tulisanku berantakan dan tidak bagus.

Oya, terakhir. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya kita masih saling memiliki, setidaknya menurutku begitu. Kamu memiliki waktuku, aku memiliki kenangan tentangmu. Kamu memiliki rinduku, aku memiliki setiap detail yang kuketahui tentang kamu. Sederhananya seperti itu.
*****

Nanti ada masa dimana kita saling mengingat apa saja yang dulu dilakukan berdua. Lalu diam dalam jeda, karena tiba-tiba kita merindukannya.

Dikutip dari Namarappuccino

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian


Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan, di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu muncul di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya; menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar kan??

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekedar pancingan, retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku–sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu di sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di camdig yang aku pegang.. oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…., tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan “ini hanyalah ketertarikan fisik semata”. Namun harus dimentahkan oleh hati yang berkata “jangan hiraukan logikamu”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada dalam dirimu. Kesalahan yang aku cari secara paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini, di balik semua rasa kangen, canggung yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan...

Aku takut sendirian.

Raditya Dika

Sabtu, 17 Maret 2012

Quote (23)




"I smile to hide the hurt. I laugh to chase away the tears. But if you look into my eyes, you will see all my pain hidden there."

Kutipan tweet @mrezanugrah

Sabtu, 10 Maret 2012

Seseorang Sepertimu




Baru-baru ini aku mengunjungi situs favoritku -Namarappuccino-, ada satu posting yang membuatku terpaku. Posting tersebut berjudul "Seseorang Sepertimu". Isinya sedikit banyak sama seperti yang aku jalani sekarang. Sebenarnya, agak miris juga baca posting ini. Tapi cukup menghibur, setidaknya sepertinya bukan hanya aku yang mengalaminya :)

Berikut adalah isi posting tersebut.


Ini nyaris sempurna. Setelah kepergianmu itu, aku menemukan seseorang sepertimu. Gaya dia berbicara, cara dia berpakaian, postur tubuhnya, semuanya sepertimu. Hei, bahkan kamu tahu, Cara dia berjalan dan menyeruput kopi juga sama sepertimu. Atau cara dia memainkan rokok putih di sela-sela jarinya. Ya. Sepertimu.

Jangan lupa, cara dia menyayangiku pun sama sepertimu. Dia akan berlama-lama mendengarku bercerita, membelai rambut panjangku dan kemudian kalau aku menangis, dia akan berkata dengan suara baritonnya, “Semua akan baik-baik saja.” Ya. Sepertimu. Menenangkanku, menghangatkanku.

Aku juga suka berlama-lama bersandar di dada bidangnya. Oya, bahkan parfumnya sepertimu. Lembut, tapi tidak mengurangi sisi maskulinnya. Ya, tentu saja aku betah berlama-lama menyandarkan kepalaku di sana. Aku suka wangi, terutama wangimu. Dan dia memiliki wangi itu. Sepertimu.

Dia juga tidak keberatan dengan kegemaranku berbelanja, atau menonton film, atau sekadar minum di kafe kecil penuh buku. Dia menemaniku dengan sabar. Pada intinya sederhana. Dia suka melihatku bahagia. Sama sepertimu.

Kamu lihat kan, semuanya nyaris sempurna.

Hanya satu yang mengganggu.

Kata ‘seperti’ yang terletak sebelum kata ‘mu’. Di sana. Di sana letak permasalahannya yang membuat segala sesuatu hanya sebatas nyaris. Ya, nyaris. Tapi, tidak pernah sempurna.

Bagaimanapun juga seseorang ‘sepertimu’ artinya tetap bukan ‘kamu’.


Dikutip dari Namarappuccino

Pelangi Senja


Pernahkah, kamu memegangi dadamu untuk menenteramkan nyeri yang tiba-tiba muncul dari sana yang menyesak hingga menarik napas pun lebih susah dari biasanya?


Pernahkah, kamu mengalami ingin sekali menangis karena dadamu sebak tapi kamu tetap tidak juga bisa menangis? Kamu hanya merasakan panas di mata, tapi airmatanya tertahan entah kenapa? Padahal kamu ingin sekali mengeluarkannya dan kalau bisa memuaskannya agar kamu kelelahan dan bisa tidur karena sudah bermalam-malam tidak bisa tidur lelap?

Ini, ini aku sedang melakukannya.

Saat ini saat aku memandangi langit sore berawan dengan semburat jingga-ungu-kelabu bergradasi begitu indah, saat di mana aku melihat lengkungan mejikuhibiniu setengah lingkaran di cakrawala. Mengantarkan aku pada sekeping kenangan yang kini sedang berputar di benakku. Tentangmu, Pelangi Senja.

Kamu pergi begitu saja. Tanpa mau duduk sejenak mendengarkanku berbicara. Bagimu, janji yang tak kutepati adalah harga mati. Aku telah menorehkan sebuah noda pada lembar putih kepercayaanmu. Bagimu, tak ada alasan lagi di balik itu. Kamu pergi dan tak menoleh lagi. Setiap langkahmu menjauh dariku, setiap itu pula hatiku terkoyak oleh luka.

Kalau ada waktu, datangi aku. Aku masih menunggu dan tidak akan minta apa-apa. Aku juga tidak akan meminta kamu jatuh cinta. Aku meminta waktumu sedikit saja untuk mendengarku berbicara. Untuk memaafkanku. Untuk saling melepaskan, kalau memang setelah berbicara, kita berdua tetap harus melepaskan.

Lalu biarkan sesuatu di dadaku ini melega. Hanya itu satu-satunya cara.

Bolehkah aku meminta itu saja? Jadi aku bisa mengatakan kepada hatiku sendiri, “Sekarang, sudah tidak apa-apa.”

Dikutip dari Namarappuccino